Hal yang paling sulit dilakukan adalah bercerita.
Sulit, jika cerita itu kita sadari bisa diakses oleh dunia.
Karena akan selalu ada 2 sisi dalam membaca sebuah kisah.
Dan akan selalu ada ribuan sudut pandang yang muncul, hanya dari satu jendela..
Menarik memang saat memiliki keberanian untuk mulai mengungkap apa yang biasanya dipilih untuk disimpan sendiri..
Aku sering kagum dengan mereka yang bisa bercerita begitu leluasa kemudian berani menanggung resiko menerima berbagai macam anggapan, yang bisa jadi diluar konteks cerita..
Butuh kekuatan baja aku rasa, karena walau ku pandai dalam menuliskan kata, aku terbiasa menulis dengan diksi-diksi tak langsung. Melalui indahnya kata dalam puisi. Tak cukup berani untuk blak-blak-an akan maksud apalagi akan siapa sebenarnya yang dituju dalam tulisan..
Tidak, aku tidak seberani itu..
Itulah kenapa ku lebih banyak memilih untuk merajut rasa dan apa yang tersimpan dalam pikiran dalam kata-kata yamg begitu men-general..
Jadi, saat ku mulai bercerita tentang perjalananku dan anakku secara apa adanya, tanpa ritme, tanpa metafora, tanpa kacamata orang ketiga tapi benar-benar dari kacamataku sendiri, well, I feel so vulnerable. And it's scared me. Like a lot.
But here I'm, writing, dibawah foto sambal tentang apa yang ku pikirkan tentang membagi cerita dari sudut pandangku akan aku dan Malik. 😅
I wish I can accept whatever feedback that will throw at me.. 💃💃💃
Love,
Komentar
Posting Komentar