Pernikahan Itu Mudah (?)

Aku menikah tanggal 16 September 2012, tepat 2 hari setelah aku dinyatakan lulus dari Sarjana Akuntansi Universitas Airlangga. Literally, "Tutup Buku Buka Terop". Hahahahaaaa...
Setelah menikah, aku langsung diboyong oleh Iwa, suamiku, ke Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat. Karena disanalah dia ditempatkan oleh negara. Well, aku pun menepati janjiku untuk selalu mengikuti dia kemanapun dia pergi, ke pelosok hutan sekalipun.

Ya, Kabupaten Sanggau adalah wilayah yang sangat kecil dan sepi, jika dibandingkan Surabaya, tempatku tumbuh dan berkembang. Tidak mudah awalnya beradaptasi disana. Jauh dari semua hal dan manusia yang aku kenal. Jauh dari semua kegiatan yang biasa mewarnai hari-hariku. Segala sesuatunya berjalan begitu lambat disana. Waktu pun terasa begitu lama.

Tapi, bukan aku namanya jika tak bisa mencari hal untuk menyibukkan diri. Walaupun sempat terjadi drama tangis karena kebingunganku akan kehidupanku yang baru, but in the end of the day, I can handle it. I always can handle everything as long as I keep faith in Allah through everything. Inshaallah.

Pernikahan saat itu memang sangat mengagetkan buatku. Persiapan hanya 3 bulan dan kami pun menikah. Setelah menikah langsung tinggal di antah berantah, meninggalkan semua hal yang sudah aku bangun di Surabaya, relasi dan bisnis.

Saat di Surabaya, aku cukup aktif dibeberapa organisasi. Dari Hijabee Surabaya, Paguyuban Cak dan Ning Surabaya, Paguyuban Putri Indonesia Jawa Timur, Duta Anti Narkoba dan satu dua komunitas bisnis yang aku ikuti untuk membangun relasi sembari aku juga membangun bisnis fashion ku saat itu.

Sekejap mata aku tinggal di kabupaten yang menjauhkanku dari semua hal yang aku ketahui, dari zona nyamanku. Instead of being busy in the outside with all privilege I usually get, aku menghabiskan banyak sekali waktu untuk membersihkan rumah, mencuci, menjemur, menyetrika, menyapu, mengepel, memasak, dan terus-terus begitu, berulang, EVERY SINGLE DAY!. Dari pagi sampai malam rasanya pekerjaan rumah tak ada selesainya. Aku juga hanya bisa bertemu suamiku di pagi sebelum dia berangkat dan di malam hari saat dia pulang. I have no friends, I'm far away from my family, and I feel so desperate because at that moment I realize that I'm not ready to be a housewife. I miss those business, activities and even every chaotic when I'm in Surabaya. 

Mendadak ngerasa meaningless gitu lho. Aku yang lulusan cumlaude, Ning Surabaya, Putri Indonesia Jawa Timur, Duta Anti Narkoba, Business Woman, END UP IN THE KITCHEN! Ditambah ngeliatin teman-teman sejawat yang mulai bekerja di perusahaan besar, entah itu BUMN, BUMD, Multinasional, Swasta ataupun PNS, rasanya IRI BANGET! Mereka bisa sibuk meeting kesana kemari. Bertemu dengan banyak orang. Punya penghasilan tetap SENDIRI, yang tidak sedikit, menjadi berdikari. And on that time, I can see so much opportunities in there sedangkan aku terperangkap disini, di kota kecil tanpa kesempatan. Jauh dari mana-mana. Dan menjadi ibu rumah tangga biasa, sesuatu yang sangat jauh dari prestige and proud. I'M NOT READY.

Beberapa kali suamiku menyarankanku untuk kembali saja ke Surabaya dan dia bilang kita menjalin hubungan pernikahan jarak jauh. Dia bilang, jangan khawatirkan dia. Everything is just gonna be okay. Actually, it's tempting. But, whatever it is, I'm not a person who can surrender that quick. Atau bisa dibilang, aku memang tidak pernah menyerah. Dalam segi apapun dihidupku, aku tidak pernah mau menyerah. Apalagi, aku tahu benar, dalam hal ini, suamiku benar-benar berusaha mencarikan rumah terbaik untuk aku tinggali selama disana. Kebanyakan rumah disana masih dari kayu, pun kalau sudah dari tembok, belum tentu aku akan nyaman dengan lingkungan disekitarnya. Suamiku benar-benar memikirkan dan mencarikan rumah ternyaman untukku, walau jaraknya lebih jauh dari kantornya sehingga dia harus menyetir lebih lama, that's fine. Selama istrinya mendapatkan yang terbaik. Mashaallah.

Seringkali aku mengatakan pada diriku sendiri bahwa ini hanyalah aku yang masih terkaget dengan kehidupan yang totally new and different. But, still, this is my choice, so I have to face it. Aku harus bisa menghadapinya dan menguasainya. Aku pasti bisa menemukan jalan untuk kembali utuh. Aku pasti bisa.

Eniwei, sebelum bisa kembali utuh, aku sadari, pernikahan itu ternyata tidak semudah yang aku kira. Tidak seindah resepsi juga. Ini adalah fase ter-serius dengan komitmen terbesar dan kelas belajar ter-rumit yang harus segera aku kuasai. Or at least, bisa ku pelajari dengan se-tenang dan se-baik mungkin.

Kalau ditarik ke waktu sekarang, 12 Februari 2019, aku bersyukur, sangat bersyukur, Allah menggariskan Iwa sebagai suamiku (We will get there. About WHY I'm so grateful to be married with him. Inshaallah.)

So, aku akan mulai ceritakan ke kamu tentang perjalanan pernikahanku, dari sini sampai nanti mau memisahkan ya, inshaallah. Let's take a note and learn together...

@tulisanmisisdevi
by @misisdevi


Komentar